Terorisme kaum Hindu yang dipertontonkan tersebut secara diam-diam mendapat lampu hijau dari pemerintahan Atal Bahari Vajpayee. Dan seperti biasanya, bila umat Islam yang teraniaya dan menjadi korban tidak ada kecaman yang bermakna dari lembaga-lembaga internasional. Tidak PBB, Komite HAM internasional ataupun lainnya. Yang ada hanya diam dan diam.
Implementasi Pengalaman Andalusia :
Pembantaian Muslim yang terjadi sungguh bukan peristiwa biasa. Dan ini bukan peristiwa kali pertama. Menurut catatan bahwa tidak kurang dari 40 ribu Muslim dibantai dalam sejarah India sejak berdirinya 1947. Darah membanjir, kehormatan diperkosa, rumah-rumah dan tempat perdagangan dibakar di samping masjid-masjid yang juga rata dengan tanah menjadi korban amuk massa fundamentalis Hindu tersebut. Pembantaian terjadi di negara yang mengaku sebagai negara demokratis terbesar di dunia dan menjunjung tinggi HAM. Ironis!
Menurut persaksian B.R.Rajkoval, mantan inspektur umum polisi India menulis di bukunya : “Kekerasan Komunal di India” menyebutkan bahwa jumlah pembantaian Muslim di antara tahun 1954-1985 lebih dari 9 ribu pembantaian. Lain lagi dengan persaksian majalah India lainnya, Dalit Voice yang terbit di Bangalore, 1/8/2000 mengatakan : “Sejak lebih dari ketengah abad dan ekstrimis Hindu terus melancarkan kampanye kriminal untuk membersihkan India dari Muslim dan dengan perlindungan pemerintahan India. Yaitu dengan cara yang serupa dengan apa yang dilakukan oleh Spanyol saat mengosongkan negeri matador ini dari Muslim. Perbedaannya bahwa politik India lebih rahasia dan kompleks. Hal itu karena dua hal, kekhawatiran akan tekanan dunia internasional dan menjaga maslahat India di dunia Islam.”
Dan menurut majalah yang sama mengatakan : “Sesungguhnya penelitian yang dilakukan terhadap kebijaksanaan politik pemerintahan India menegaskan similaritasnya dengan politik yang dilakukan oleh Ferdinand untuk menghabisi Muslim di Andalusia.” (mujtama’, no.1507, 29/6/2002)
gujarat riot 2002 20100412 490x326 Mengingat Pembantaian Muslim Gujarat (1)
Maka apa yang disaksikan oleh sejarah modern India dari peristiwa pembantaian di Gujarat pada bulan Februari 2002 yang lalu adalah contoh konkrit dari proyek genocide di atas. Tidak saja menghabisi Muslimnya tapi agama, kebudayaan dan kepribadian mereka secara keseluruhan. Tidak kurang dari 6000 Muslim syahid terbakar, terpenggal dan tertembak. Menurut harian Milli Gazette yang terbit di New Delhi bahwa jumlah rumah dan pusat pertokoan Muslim yang rata dengan tanah tidak kurang dari 100 ribu buah.
Masjid-masjid umat yang menjadi tempat ibadah pun tidak luput dari target mempraktekkan “pengalaman Spanyol” dalam mencabut akar Muslim dari bumi India. Dari data majalah ini bahwa jumlah masjid yang dihancurkan dan dirubah menjadi tempat peribadatan Hindu tidak kurang dari 500 buah. Dan yang paling tragis lagi bahwa sekitar 11.000 Muslimah diperkosa di mana sebagian besar di antara mereka sedang mengandung janin-janin “teroris” Hindu. Penderitaan umat yang pernah dialami oleh Muslimah Bosnia ternyata kembali terulang di Gujarat.
Menurut laporan delegasi wanita India yang terdiri dari 5 lembaga kewanitaan yang mengunjungi lokasi pengungsi mengatakan : “Sesungguhnya metoda biadab dan barbarik yang dipraktekkan oleh kaum Hindu yang buas memperkosa wanita Muslimah secara kolektif di Gujarat adalah cara yang dilakukan oleh Serbia terhadap wanita Bosnia.” (mujtama’, no.1507, 29/6/2002) Berdasarkan apa yang dituturkan oleh lembaga kewanitaan di atas bahwa kaum hawa yang malang di atas terdiri terdapat mereka yang berumur 10 tahun. Dan bahkan ada juga yang berumur 80 tahun pun turut “digarap” oleh “binatang-binatang buas” Hindu di atas. Sebagian di antara mereka ada yang dibunuh, dibakar hidup-hidup dan sebagian dari kaum hawa ini pun banyak yang mencemplungkan diri ke dalam sumur-sumur menghindari kebuasan fundamentalis di atas.
Posted by , Published at 12.56